Ada satu cerita
Yang kuketik, pada malam buta
Tentang lelaki pujangga dan cintanya
Cinta yang dituai malam
Dan hilang bagai udara, dibawa oleh angin
Entah kemana„
Dunianya kini adalah alunan teriakan
Yang menyayat dinding-dinding pelangi
Menjadi abu-abu membias
Sampai cahaya pun enggan menyapa
Inilah satu cerita,
Tentang pujangga yang punya hati
Tapi tak sampai hati untuk mati
… demi cinta…
Bogor, 5 Januari 2012
Tuhan telah mencipta dewa dalam wujud peri
Peri mimpi yang menari
Lewat cermin khayal
Atau sekedar mampir dalam sepi seorang aku
Tenggelam dalam ironi roman tak berpintu
Hanya sisi jendela yang terkatup rapat
Hingga terkunci dalam perih
Itulah Diatri.
Sang dewi yang turun ke bumi
Untuk menjadi duri,
Di balik sekat jerami usang,
Tergores luka
“itulah ia bagiku”
Hai, Tuhan..
Inikah isyaratmu
Pertanda tentang kutukan jiwa-jiwa sesat
Ah,
Leburlah aku bersama malam
Luruhlah aku bersama kelam
Lahirlah amarah muram
sebuah petaka di balik kisah cinta sang pujangga
… kisah ironi…
Bogor, 5 Januari 2012
Jejak Sandiwara Indonesia : dulu, kini dan nanti
tulisan untuk kumpulan puisi dalam rangka Ultah FFB : Fest.Film Bandung
Indonesia dulu,
Adalah negara pencipta sandiwara
Beralaskan perjuangan nyata
Tentang merah dan putih
Yang terekam lewat layar perak bermata emas
Penuh tragedi dan darah penghabisan
Atau tentang roman bukan picisan
Haru,
Tangis,
Derita,
Bahagia
Jujur mengalir lewat ekspresi layar kaca
Tanpa polesan yang keterlaluan
Kuingat betul,
Cahaya yang berpendar redup lewat kotak kecil hitam putih di sudut jendela kaca
Namun penuh dengan rasa warna-warni :
Nilai nurani,
Simpati,
Empati,
Bara idealis
Meletup bersama lahirnya sang “karya”
Sebuah santapan bergizi
bagi para penggemar imaji
Tapi,
Indonesia kini,
Hanya tinggal ampas dari obsesi “maha karya” usang
Yang diracik khas ala Punjabi
Terangkum dalam layar kotak warna-warni satu makna : Buram!
Indonesia kini,
Hanya jadi budak kebodohan
Korban industri seni
Yang butakan imajinasi
Jadi reka cerita plagiat tanpa makna
Lucu, Tuan-tuan..
Melihat kotak layar kaca jaman sekarang
Seakan logika manusia dibolak-balik tanpa otak
Dan dibuang entah kemana
“Apa mereka sudah gila?”, pikirku
Menggantungkan cerita
Pada aksi reaksi palsu
Dari si cantik ber-alis mata tinggi?
Atau pada air mata tanpa rasa?
Yang digemari para opa dan oma yang beranjak pikun
Lucu, bukan?
Tuan-tuan,
Indonesia dulu memang bodoh karena terjajah
Tapi kini sudah merdeka
Janganlah dijarah
Oleh pembodohan ulah dari alur kejar tayang
: sebuah bentuk keserakahan era baru yang bertopeng seni
Ibalah pada mereka, Tuan..
Yang telah lebih dulu berpeluh lelah
Demi menghidupkan jiwa pada imaji-nya
Atau pada mereka yang telah memberi ruh pada karya-nya
- Rusak sudah-
Indonesia, Indonesia..
- Habis sudah-
Indonesia kini,
Eits, Tuan-tuan..
Tapi jangan dulu berpongah ria
Karena Indonesia di masa nanti,
Masih punya waktu untuk menanti
Lahirnya para muda berkarya
Tuk’ benahi Indonesia
Yang sudah kekenyangan oleh suapan sandiwara runyam masa kini
Bersiaplah, Tuan-tuan
Pada Indonesia yang bangun dari mati suri
Yang menggeliat untuk gapai mimpi
-Bangkit sudah-
Indonesia, Indonesia…
Akan membiru oleh semangat baru
Widi Dwinanda
Bogor, 5 Januari 2012
aaah„
akhirnya kesadaran datang padaku,
kalau:
Bahagiaku hanya sebatas fatamorgana sahara,
Semua hanya ilusi, dan mimpi.
Tentang hitam yang jadi putih
Tentang gelap yang jadi cahaya
Karena nyatanya, goresan itu terlalu pekat tak terhapus.
Tak bisa terhapus
Malanglah, aku.
#Galery of my Journey : me at Goa Seropan
TENTANG GOA SEROPAN
Goa seropan merupakan satu dari seribu Goa yang tersebar di kawasan Gunung Kidul Yogya. Setelah sebelumnya saya menelusuri Goa Luweng Cokro dan Goa Telogo, saya pun akan menelusuri Goa Seropan ini. Goa Seropan berada di Desa Semuluh, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul. Akses menuju Goa Seropan cukup mudah. Selain lokasinya tidak jauh dengan jalan raya, disini juga tersedia tangga untuk sampai ke mulut Goa. Tapi akses ini bukan sengaja dibuat untuk wisata, melainkan untuk kepentinan pengolaan air minum milik PDAM.
Goa Seropan ini termasuk salah satu Goa yang cukup besar, dengan panjang kurang lebih 900 meter dan kedalaman 63 meter.
Sebelum melakukan eksplorasi Goa Seropan, saya bersama tim Sahabat ALam DAAI TV bersiap terlebih dulu di basecamp yang tak lain adalah rumah kuncen Goa Seropan, yaitu Pak Karsono. Setelah peralatan lengkap, terutama peralatan savety-nya, saya pun langsung meluncur ke arah Goa! Rasanya tidak sabar!
Waktu saya sampai di mulut Goa Seropan. Wuiih, saya seperti disambut oleh tebing-tebing kapur yang eksotis! mantap! dan menurut informasi, formasi tebing kapur yang ada di sini pas sekali untuk panjat tebing!
Oia, Goa Seropan ini, termasuk Goa sungai bawah tanah. (makanya bisa dimanfaatkan sebagai sumber air oleh PDAM). Nah, untuk melakukan eksplorasi Goa sungai bawah tanah di waktu musim hujan, kita harus tau benar karakteristiknya. Apakah alirannya berasal dari luar berupa air bah, atau hasil resapan permukaan yang disebut perkulasi. Kalau berasal dari luar? Jangan coba-coba untuk masuk Goa di waktu hujan, karena banjir Bandang bisa terjadi kapan saja. Kebetulan, waktu penyusuran saya pas dengan musim hujan di Gunung Kidul, awalnya ngeri juga untuk melakukan penyusuran, tapi setelah dijelaskan oleh mas Bagus (guide dan peneliti Goa) aliran Goa Seropan itu berasal dari resapan permukaan dan menurut data Loger yang merekam fluktuasi air, Goa Seropan ini masih aman untuk disusuri.
Seapanjang penyusuran, saya memang tidak menemukan ornamen-ornamen Goa seperti di Luweng Cokro dan Goa Telogo. Tapi, semakin ke dalam, saya merasa akan ada tantangan besar di depan saya, terutama ketika saya mendengar suara gemuruh di tengah kegelapan. Rasanya?? campur aduk, antara takut dan penasaran. Dan ternyata benar saja, gemuruh air itu berasal dari bendungan yang debit airnya meningkat akibat musim hujan. Dan untuk melintasinya, Mas bagus dan tim membuat lintasan dari tali. Arus yang sangat deras membuat saya kesulitan berpijak. Fuiih, pokonya pengalaman saya cukup menegangkan kali ini.
Goa seropan memiliki berbagai keunikan. Bisa dibilang, Goa ini merupakan bukti catatan sejarah manusia dan binatang purba. Karena saya banyak sekali menemukan banyak fosil di tengah bebatuan dan lumpur. Selain itu, di Goa ini ada air terjun setinggi 7 meter! Waaa.. kebayang kan? air terjun di dalam Goa? kereen!!
Tapiii, sayangnya, karena hujan dan debit air yang meningkat, menutupi jalur eksplorasi, jadi saya tidak bisa melanjutkan eksplorasi sampai air terjun. Di tengah penelusuran saja, saya hampir terseret arus. Hiih! Akhirnya saya dan tim memutuskan untuk mengakhiri eksplorasi. Meskipun begitu, saya cukup puas! Saya bisa melihat dan memegang langsung fosil-fosil berupa gigi/ tulang kaki rusa purba. Seruuu! Ditambah lagi setelah di dalam Goa, saya disambut oleh stalaktit yang luar biasa indah.
Eits, tapi jangan salah. tantangan saya belum berakhir sampai di sini. Ketika saya kembali ke lintasan bendungan. Taraaa!! debit airnya sudah meningkat dan lebiih deras lagiii! otomatis saya harus lebiiih berjuang untuk melintasinya. Pijakan pun harus ekstra kuat, kalau tidak? siap2 terbawa arus yg sangat deras. Tapi, akhirnya saya berhasil melewatinya! YEsss!!
Eksplorasi Goa Seropan merupakan akhir dari trilogi ekspedisi Goa saya di Gunung Kidul : Luweng Cokro, Goa Telogo dan Goa Seropan. Masih ada beribu Goa di kawasan Karst Gunung Sewu yang menyembunyikan keindahan Perut Bumi dengan segala potensi di dalamnya. Biarkanlah mereka lestari dalam gelap. Dan jangan biarkan mereka terusik hanya karena keserakahan manusia dan eksploitasi pemanfaatan yang semu.